Mengenal Istilah Tekanan darah Sistolik dan Diastolik

tekanan darah sistolik dan diastolikIstilah Sistolik dan Diastolik adalah menjelaskan pembacaan tekanan darah yang ditunjukkan oleh alat ukur tekanan darah – atau yang disebut Sfigmomanometer. Tekanan darah sistolik adalah pebacaan jumlah angka atas, yang mengacu pada jumlah tekanan dalam arteri selama otot jantung berkontraksi – ini juga sering disebut tekanan darah atas. Terus yang kedua adalah tekanan darah Diastolik, adalah jumlah angka bawah yang mengacu pada tekanan darah pada saat istirahat atau diantara detak jantung – ini seringkali disebut juga tekanan darah bawah. Istilah lain yang juga perlu Anda ketahui pada alat ini adalah “mm Hg”, yaitu satuan yang menyatakan pembacaan tekanan darah yang merupakan kependekan dari “milimeter merkuri”

Advertisement

Mari kita bahas lebih jauh tentang kedua sebutan pada angka alat pengukur tekanan darah ini, bagaimana tekanan darah yang dianggap normal dan yang bermasalah.

Pembacaan untuk angka tekanan darah yang normal adalah 120/80 mmHg, yaitu angka atas(sistolik) maksimal adalah 120 dan angka bawah(diastolik) menunjukkan angka 80 kebawah. Sementara ketika menunjukkan angka yang lebih tinggi dari itu bisa disebut Anda memiliki kondisi yang perlu diwaspadai.

Baca juga : Inilah Top Makanan Penurun tekanan Darah Tinggi

Ketika angka sistolik Anda menunjukkan antara 120-139, dan angka diastolik menunjukkan antara 80 – 89, artinya Anda memiliki kondisi “prehipertensi.”

Meskipun angka-angka tersebut secara teknis tidak dianggap memiliki “tekanan darah tinggi,” namun sudah bergeser keluar dari kisaran normal. Prehipertensi ini berpeluang untuk berubah menjadi tekanan darah tinggi yang sebenarnya, yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Hipertensi Tahap 1

Anda umumnya akan didiagnosa memiliki tekanan darah tinggi jika tekanan darah sistolik Anda mencapai antara 140-159 mm Hg, atau jika tekanan darah diastolik Anda mencapai antara 90-99 mm Hg. Hal ini dianggap sebagai hipertensi “tahap 1”.

Namun jika hanya satu pembacaan yang menunjukan angka lebih tinggi, maka Anda mungkin tidak benar-benar memiliki tekanan darah tinggi. Hal yang menentukan hipertensi untuk setiap tahap adalah jika angka Anda tetap tinggi untuk beberapa periode waktu. Konsultasikan dengan dokter untuk membantu Anda mengukur dan menentukan apakah tekanan darah Anda benar tinggi.

Hipertensi Tahap 2

Jika pada hipertensi tahap 1 hanya masih perlu dikhawatirkan, maka pada tahap 2 ini adalah tekanan darah telah menunjukkan kondisi yang lebih serius. Jika tekanan darah Anda menunjukkan angka sistolik 160 atau lebih, atau bawah 100 atau lebih, maka ini dianggap sebagai hipertensi tahap 2.

Baca juga:  Akibat Kurang tidur dalam Jangka Panjang

Pada tahap ini, selain Anda harus merubah gaya hidup Anda seperti menurunkan berat badan, pola makan yang lebih baik, dan lebih banyak berolahraga, dokter mungkin akan merekomendasikan obat untuk menjaga tekanan darah tetap terkendali.

Tingkat membahayakan

Pembacaan tekanan darah di atas 180/110 mm Hg, atau angka sistolik dan diastolik yang lebih tinggi menunjukkan masalah kesehatan yang serius. Tekanan darah dalam kisaran ini biasanya membutuhkan perawatan medis darurat.

Namun terkadang satu pembacaan yang tinggi dapat terjadi, namun kemudian akan kembali normal. Jika seperti ini, dokter biasanya cenderung akan melakukan test yang kedua/mengulang setelah beberapa menit. JIka pada tes ulang tetap tinggi maka Anda mungkin membutuhkan perawatan medis darurat.

Pencegahan

Mengetahui angka bacaan tekanan darah Anda yang normal bukan berarti Anda harus puas dan bertenang-tenang saja.

Direkomendasikan untuk orang yang memiliki angka tekanan darah sistolik dan diastolik yang sehat untuk mengambil langkah pencegahan untuk membantu menjaga tekanan darah supaya tetap dalam batas normal; menghindari kemungkinan hipertensi , penyakit jantung atau stroke.

Semakin usia Anda bertambah, melakukan tindakan pencegahan semakin penting. Tekanan sistolik cenderung merangkak naik setelah Anda berusia lebih dari 50. Mulailah dengan mempertahankan berat badan yang sehat, yang bisa capai melalui diet sehat dan berolahraga. Dengan memiliki berat badan yang sehat, maka resiko darah tinggi dikemudian hari juga akan semakin kecil.

Menurut Wikipedia,  sfigmomanometer adalah alat ukur tekanan darah.
Sebutan ini berasal dari kata dari bahasa Yunani sphygmós (pulsa), dan kata manometer (pengukur tekanan). Alat ukur ini dibuat pertama kali oleh Samuel Siegfried Karl Ritter von Basch pada tahun 1881, dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Scipione Riva-Rocci (1896), dan Harvey Cushing (1901). Alat terdapat 2 versi, yaitu versi digital dan analog.
Sfigmomanometer digital menggunakan layar untuk menunjukkan angka tekanan darah, sedangkan versi analognya menggunakan air raksa atau jarum untuk menunjukkan tekanan darah.

[Medical Disclaimer]

Advertisement

Bagikan yang bermanfaat kepada rekan dan kerabat dekat Anda dengan tombol berikut :

Mungkin Anda juga Menyukainya :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *