Efek Samping Penggunaan Antibiotik pada Bayi

efek samping antibiotik pada bayiAntibiotik yang umum seperti amoksisilin biasanya diberikan untuk mengobati infeksi bakteri yang biasa menyerang telinga tengah, kulit, saluran pernafasan atas dan bawah, dan saluran kemih. Bayi bahkan orang dewasa harus menghabiskan antibibiotik yang diresepkan oleh dokter, bahkan jika gejala infeksi sudah hilang. Tidak menghabiskan antibiotik yang telah diresepkan dapat menyebabkan efek bakteri bisa aktif lagi dan menjadi lebih resistensi terhadap dosis antibiotik sebelumnya. Dengan demikian, penggunaan antibiotik harus merupakan resep dari dokter yang menangani kondisi bayi atau pasien dan mentaati semua anjuran yang diberikan. Walaupun antibiotik sangat penting untuk mengobati infeksi dan telkah banyak menyelamatkan orang, mungkin ada beberapa efek samping buruk yang bisa timbul khususnya pada bayi.

Advertisement

Berikut beberapa efek samping yang mungkin bisa terjadi sebagai akibat dari pemberian antibiotik pada bayi

Dapat meningkatkan resiko eksim pada kehidupan bayi dimasa depan

Menurut para peneliti inggris yang diterbitkan tahun 2013 di dailymail.co.uk, Antibiotik yang diberikan kepada bayi sebelum berumur satu tahun lebih mungkin untuk mengembangkan eksim.

Menurut peneliti senior,  Dr Carsten Flohr, dari King College dan Guy, mereka telah menemukan bahwa paparan antibiotik pada awal kehidupan bisa meningkatkan risiko eksim  kedepan hingga 40 persen, dan antibiotik spektrum luas bisa memiliki efek yang lebih nyata. Eksim adalah penyakit yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh yang lebih aktif dan menyebabkan kulit kering dan gatal. Dr Flohr merekomendasikan bahwa antibiotik harus diresepkan dengan hati-hati, terutama untuk bayi yang dengan riwayat keluarga eksim ataudengan  penyakit alergi.  Dokter biasanya memiliki alasan yang baik untuk meresepkan antibiotik kepada bayi, imbuhnya.

Dapat mempengaruhi kesehatan bayi dalam jangka panjang

Memberikan bayi antibiotik akan mematikan perkembangan bakteri usus yang sehat, sehingga menempatkan bayi pada risiko mengembangkan asma, obesitas dan alergi di dimasa depan, menurut studi terobosan di Irlandia. Harus diakui bahwa antibiotik adalah obat yang hebat yang telah menyelamatkan banyak nyawa diseluruh dunia, namun mengubah mikrobiota pada usus yang sangat awal dalam kehidupan(bayi) bisa memberikan efek negatif pada perkembangan sistem kekebalan tubuh danbisa mempengaruhi kesehatan jangka panjang, terutama meningkatkan risiko asma, alergi, dan obesitas. Para ilmuwan penelitian membuat studi kasus untuk menggunakan antibiotik spektrum sempit yang tertarget untuk mengobati bayi dengan waktu sesingkat mungkin.

Baca juga:  Manfaat Buah Jeruk Untuk Ibu Hamil, Janin dan Balita

Diare

Antibiotik bekerja dengan cara mematikan bakteri dalam tubuh, namun sayangnya bakteri baik yang berguna untuk pencernaan diusus juga ikut mati. Tanpa bantuan bakteri sehat, bisa menyebabkan tinja menjadi encer, berair dan lebih sering, menurut dokter anak terkenal Dr William Sears. Bayi mungkin bisa kehilangan nafsu makan selama waktu pengobatan antibiotik ini karena rasa tidak nyaman dalam pencernaannya. Dengan demikian menyusui harus bayi harus lebih sering sepanjang hari untuk membantu mencegah bayi dehidrasi. Jika diare tak segera sembuh atau semakin buruk, atau bayi menolak diberi makan, maka bayi harus segera dibawa ke dokter spesialis anak.

Ruam popok

Bayi bisa mengalami ruam popok selama diberikan antibiotik seperti amoksisilin. Hal ini dapat terjadi terkait dengan tinja encer atau diare. Krim dengan seng oksida dapat membantu melindungi kulit bayi dan mengurangi timbulnya ruam. Hal ini juga bisa terjadi karena bakteri sehat dalam ikut mati, sehingga menciptakan lingkungan yang rentan terhadap pertumbuhan jamur atau ragi yang menyebabkan ruam. Ruam yang menetap harus segera dibawa ke dokter dan krim antijamur mungkin disarankan.

Muntah

Menurut Drugs.com, reaksi muntah bisa terjadi saat mengambil antibiotik. Orang tua harus mempertanyakan kepada dokter anak mengenai apakah harus mengulangi jika bayi mengalami muntah. Muntah yang parah atau persisten harus segera dilaporkan ke dokter. Dalam beberapa kasus, dosis antibiotik pada bayi mungkin perlu diubah atau diganti dengan jenis lain yang diresepkan.

Pengobatan dengan antibiotik tetap diperlukan untuk mengatasi infeksi segera. Dokter tentu telah menimbang dampak baik dan buruknya penggunaan antibiotik pada bayi khususnya. Jangan pernah memberikan antibiotik atas keputusan sendiri dengan tanpa resep dari dokter. Juga patuhi resep dan saran dokter dengan baik. dan jangan segan menghubungi dokter jika ada reaksi yang tak diinginkan ketika bayi deberikan obat.

[Medical Disclaimer]

Advertisement

Bagikan yang bermanfaat kepada rekan dan kerabat dekat Anda dengan tombol berikut :

Mungkin Anda juga Menyukainya :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *